Senin, 30 Januari 2012

Ngintip Burung, Bukan Sekedar Hobi

Ngintip Burung, Bukan Sekedar Hobi
PURWOKERTO – Tikar dadakan dari ponco sudah digelar. Cemilan dan air mineral menyusul kemudian. Tak ketinggalan, teropong sederhana atau biasa disebut binokuler juga dikeluarkan dari tas ransel sedikit lusuh itu.


“Pagi ini, kami akan memantau migrasi ribuan burung dari Siberia,” ujar Timur Sumardiyanto, Koordinator Biodiversity Society Banyumas (BSB), Minggu (27/11).

Pagi itu, Timur mengajak serta anak dan istrinya. Bersama sejumlah anggota komunitas lainnya, mereka menggelar acara mingguan untuk pemantauan dan pencatatan keragaman hayati yang ada di Banyumas dan sekitarnya.

Sesuai dengan namanya, BSB merupakan komunitas relawan yang tertarik untuk mendata keragaman hayati di Wilayah Banyumas. Komunitas ini dibentuk tahun 2002. Saat ini, anggotanya tercatat ada 20-an orang. Sejak dibentuk, anggotanya datang dan pergi. Terutama jika mendapat pekerjaan di luar kota.

Selain pekerja swasta, BSB juga beranggotakan lintas pekerjaan seperti aktivis LSM, wartawan, petani, juga ada mahasiswa. Biasanya sepekan sekali, mereka berkumpul. Sambil liburan juga melakukan pemantauan dan pendataan keragaman hayati Banyumas.

Banyumas, kata Timur, terbagi menjadi tiga locus besar keragaman hayati. Pertama, Gunung Slamet dengan keragaman flora dan fauna hutan tropis. Banyak hewan dan tumbuhan endemik tinggal di sana.

Setelah itu, ada Nusakambangan dengan hutan pamah terbesar di Jawa. Juga ribuan hektare hutan mangrove sebagai tempat tinggal dan habitat burung serta berjenis-jenis mangrove langka. Tak kalah hebatnya, Sungai Serayu. Sebagai sumber kehidupan masyarakat di lima kabupaten yang juga menjadi tumpuan burung sungai dan ikan khas Serayu.

Timur mengatakan, Komunitas didirikan tahun 2002 saat ia masih kuliah di Universitas Jenderal Soedirman. Bersama rekan-rekannya yang lain, ia bisa menjelajah hutan Lereng Gunung Slamet, sekedar untuk melihat Elang Jawa, Owa Jawa dan mencari flora endemik Slamet lainnya.

Menurutnya, pemantauan dan pencatatan itu penting untuk data base keragaman hayati Banyumas. Selama ini, kata dia, Banyumas belum mempunyai data base keragaman hayati yang cukup valid. Ia mengaku malu, kota besar seperti Bandung dan Jogjakarta sudah lebih dulu mempunyai komunitas yang perhatian terhadap data keragaman hayati tempat mereka. “Kami ingin Banyumas lebih diperhatikan, sekaligus sebagai indikator perubahan lingkungan,” katanya.

Ia mengatakan, selain flora dan fauna endemik, tiap tahun Banyumas juga menjadi tempat persinggahan ribuan burung migran dari Eropa dan Asia. Selain itu, perburuan flora dan fauna dari Banyumas juga cukup tinggi.

Dari hasil pengataman selama ini, beberapa fauna dan flora endemik mulai mengalami penurunan populasi. Contohnya, Elang Jawa di Gunung Slamet, Owa Jawa dan Nephentes atau kantung semar khas Slamet.

Di Gunung Slamet, kata dia, juga ada dua jenis kupu-kupu yang sangat langka dan awetannya diperdagangkan dengan harga cukup tinggi. Kupu-kupu dengan nama Traides dan Papiloparis ini , laku keras dikalangan kolektor awetan kupu-kupu.

Sejak 2002, kata dia, tercatat ada 60 jenis kupu-kupu yang hidup di wilayah Banyumas. Tiga diantaranya jenis langka dan hampir punah.

Selain itu, mereka juga mencatat ada sekitar 500 jenis burung baik migrant maupun endemik Banyumas. Selain raptor, ada juga burung air dan burung migran.

Timur mengatakan, keterbatasan sukarelawan membuat pendataan tidak bisa dilakukan dengan cepat. Selain itu, mereka juga bekerja di beberapa instansi sehingga waktunya hanya bisa dilakukan saat libur. “Lokasinya bisa dimana saja sambil liburan. Bisa di hutan, pantai, atau bantaran sungai,” katanya.

Tak hanya dari kalangan sendiri, sesekali mereka juga mengajak anak-anak sekolah untuk melakukan pemantauan. Kepada mereka, Komunitas mengenalkan berbagai jenis satwa seklaigus nama latinnya. Pengenalan terhadap anak sekolah juga dimaksudkan sebagai bentuk kampanye lingkungan sejak dini.

Meski sudah lama melakukan pengamatan, kesulitan sering dihadapi mereka. Diantaranya, sulit untuk mengidentifikasi keragaman hayati. Mereka tak sungkan untuk membuka buku-buku tebal sekedar mencocokkan jenis apa yang sedang mereka hadapi. Setelah itu, mereka harus menghapal nama-nama latinnya yang kadang kesulitan dilafalkan dengan dialek Banyumasan.

Jika masih kesulitan, mereka biasanya mengunggah foto hasil pengamatan ke situs jejaring sosial facebook. Di dunia maya itu, mereka saling berdiskusi dan mengidentifikasi jenis dan bentuk morfologi flora dan fauna. “Jika sudah benar dan pas, baru dicatat. Kami ingin meminimalkan kesalahan sekecil mungkin tentang jenis keragaman hayati ini,” imbuhnya.

Hariawan Agung Wahyudi, Eksekutif Officer Harimau Kita mengatakan, ilmu yang didapat dari Komunitas sangat berharga untuk pekerjaan mereka kelak. “Ilmu tentang investigasi perburuan satwa bisa saya gunakan saat di Harimau Kita,” katanya.

Harimau Kita merupakan NGO lingkungan yang fokus terhadap konservasi harimau Indonesia. Ia mengatakan di BSB, ia pernah belajar menelusuri perburuan dan perdagangan satwa dan tumbuhan khas Banyumas yang cukup langka.

Ia mencontohkan, Elang Jawa yang dilindungi undang-undang, banyak diburu untuk dijual ke Ppasar hewan Ajibarang Banyumas. Dari pasar Ajibarang, mereka menjualnya ke pasar Pramuka di Jakarta. “Gunung Slamet merupakan salah satu stok atau penyumbang perdagangan satwa di pasar Pramuka,” katanya.

Tentang Harimau, Hariawan mengatakan, dirinya pernah menemukan bekas cakarnya di Gunung Slamet. Hanya saja, penampakan aslinya belum pernah terdeteksi.

Selama ini, data base milik BSB juga digunakan pemerintah untuk strategi konservasi elang jawa. Data juga digunakan oleh pemerintah untuk perumusan kebijakan soal konservasi keragaman hayati.

Enggar Lestari, Mahasiswa Bilogi Unsoed mengatakan, dengan ikut komunitas ini, ia bisa belajar secara langsung morfologi satwa dari lapangan. “Dibandingkan dari buku, lebih puas jika melihat langsung,” katanya.

Ia sendiri mengaku takjub dengan keragaman hayati Banyumas. Beberapa diantaranya, bunga anggrek yang hanya ada di Gunung Slamet, kupu-kupu cantik, dan kantung semar warna merah yang banyak diperdagangkan di Baturraden. “Yang jelas, ilmunya sangat berguna untuk kuliah,” imbuhnya.

Asman Adi Purwanto, Koordinator Pemantauan Burung Migran di Raptors Indonesia mengatakan, selain untuk kampanye lingkungan, bersama komunitas lain mereka juga sering melakukan  kegiatan penghijauan. “Indikator lingkungan bisa dilihat dari naik turunnya keragaman hayati,” katanya.

Menurutnya, masyarakat perlu lebih peka terhadap lingkungan sekitarnya. Jika dulu masyarakat melihat elang masih bersliwerang di angkasa, kini hal itu sudah jarang terlihat. “Ini menandakan, makanan mereka sudah sangat sedikit,” ujarnya.

ARIS ANDRIANTO

Menanti Kepulangan Burung Siberia
Hasil pengamatan Komunitas Keragaman Hayati Banyumas (BSB) pada pekan ini, sudah tak terlihat lagi burung migran dari benua Eropa singgah di Banyumas. Mereka kini sudah terbang lagi melanjutkan perjalanan ke Nusa Tenggara Timur sebagai tempat pemberhentian terakhir migrasi ribuan burung berbagai jenis itu.

“Kami akan menunggu mereka pulang, sekitar bulan Maret tahun depan,” ujar Asman Adi Purwanto, anggota Komunitas BSB.

Asman mengatakan, setiap tahunnya burung migran singgah di Banyumas. Mereka menghindari musim dingin yang saat ini sedang terjadi di Eropa. Biasanya, puluhan ribu burung itu, singgah atau roosting di sekitar daerah aliran sungai Serayu.

Migrasi burung tersebut terjadi setiap tahaun. Burung membutuhkan suhu hangat yang bisa ditemukan di daerah tropis.  Jenis burung yang bermigrasi meliputi puluhan jenis elang, layang-layang dan burung air. Biasanya mereka bertengger di dahan pohon pinus dan kabel SUTET.

"Burung tersebut berasal dari sekitar Siberia, Cina dan Jepang. Mereka terbang menempuh ribuan kilometer melalui semenanjung Malaya, melewati Sumatera kemudian melintasi Jawa dan berakhir di kepulauan Nusa Tenggara," kata Timur  Sumardiyanto, Koordinator BSB.

Timur menambahkan, periode kedatangan migrasi burung-burung tersebut dimulai dari Oktober hingga Nopember setiap tahunnya. Setelah istirahat sekitar 3 bulan, mereka akan memulai perjalanan pulang di awal bulan Maret.

 Bagi komunitas ini, musim migrasi burung merupakan momen yang tak akan dilewatkan. Setelah mendata, mereka biasanya akan berbagi dengan komunitas pengamat burung lain di Indonesia.

0 komentar:

Posting Komentar