Rabu, 17 Oktober 2012

Primadona Baru Petani Urutsewu Kebumen



KEBUMEN – Wajah Cahya Primadona, 19 tahun, tampak berseri-seri. Ia baru saja dibelikan kakeknya sebuah sepeda motor matic. Sepeda motor warna merah itu baru saja keluar dari diler motor di Kebumen. “Saya bayar cash hasil penjualan papaya,” kata Karto Wikromo, 90 tahun, petani Desa Wiromartan, Kecamatan Mirit, Kebumen, Kamis (11/10).

Ia baru saja menjual pepaya dari lahan yang ia miliki seluas 300 meter persegi. Dari modal sebanyak Rp 15 juta, ia kini sudah mengantongi Rp 45 juta. Semua dari usahanya menjual pepaya.

Sudah enam kali pergantian kepala desa, Karto mengaku tak pernah sesukses ini menjadi petani. Ia baru tiga tahun mencoba peruntungan menanam Pepaya Calina. Sebuah varietas pepaya buatan salah seorang peneliti Institut  Pertanian Bogor, Prof. Dr. Ir. Sriani Sujiprihati dan rekan-rekannya sesama dosen Ilmu Pertanian Bogor (IPB). Sejak tahun 2001, mereka telah berkeliling ke seluruh Indonesia untuk mengumpulkan berbagai verietas pepaya.

Dari 50 jenis buah pepaya yang dikumpulkan, dilakukan seleksi hingga akhirnya menghasilkan riset beberapa varietas pepaya unggulan. Hasil riset itu menghasilkan pepaya Calina atau IPB-9 yang saat ini banyak ditanam oleh petani di Kawasan Urutsewu Kebumen.

Rasa daging pepaya Calina cukup manis  (10-11 brix) serta tidak terlampau lembek menjadikan buah ini serasa tepat disandingkan dengan menu-menu restoran dan hotel berbintang. Harumnyapun akan tercium segar bila ada penikmat buah yang sensitif terhadap bau. Sederet kandungan vitamin dan yang paling penting tidak mengandung pengawet seperti buah impor.

Menurut Ruslan, petani sekaligus pengepul pepaya Calina di Desa Munggu Kecamatan Petanahan Kebumen, pepaya jenis ini  akan berbunga sekitar 4 bulan setelah tanam dengan umur petik sekitar 200 hari. “Potensi produksi buah mencapai 400 ton per hektare dalam 3 tahun atau rata-rata 133 ton per tahun,” katanya.

Dengan jumlah produksi yang cukup, kata dia, petani hanya perlu sedikit waktu untuk memasarkan hasil usaha ini. Tengkulak akan datang dan mungkin akan menjadi sahabat yang baik saat petani tidak punya waktu khusus untuk jualan.

Ia sendiri merupakan generasi pertama petani yang menanam pepaya jenis ini. “Awalnya saya dicemooh dan ditertawakan petani yang lain,” kata dia yang sudah menanam pepaya sejak tiga tahun lalu.

Namun, sejak melihat sendiri kerja keras Ruslan membuahkan hasil, banyak petani lainnya ikut menanam pepaya Calina. Saat ini, Ruslan sudah membentuk kelompok tani Melati Munggu dengan anggota sekitar 30 orang. Selain berdiskusi soal cara menanam yang baik, sebulan sekali mereka berkumpul untuk arisan dan menambah uang kas kelompok untuk membantu petani lain yang membutuhkan bantuan.

Ruslan menjual pepayanya ke pengekspor. Dari petani, ia membeli dengan harga Rp 2.400 hingga Rp 3.000 perkilogram, tergantung kualitas pepaya. Pepaya kualitas ekspor tentu lebih mahal jika dibandingkan pepaya yang dijual untuk pasar dalam negeri. Di tingkat ekportir, ia biasa menjual satu kilogramnya mencapai Rp 4.500.

Pepaya kualitas ekspor harus sempurna secara tampilan fisiknya. Tak boleh ada cela sedikitpun. “Ada satu titik hitam saja, sudah bisa dianggap barang afkir,” katanya.

Menurut Kepala Bidang Tanaman Pangan dan Hortikultura pada Dinas Pertanian dan Peternakan Kabupaten Kebumen, Mochamad Machasin, produksi pepaya di Kebumen cukup besar. “Produksi  pepaya Kebumen mencapai 317 ton per minggu, dari luas lahan sekitar 200 hektare,” katanya.

Luas lahan petani di Urutsewu yang ditanami pepaya bahkan terus bertambah. Bentang pantai Urutsewu yang mencapai 22,5 kilometer, sepanjang mata memandang merupakan tanaman pepaya. Dari bibir pantai, lebarnya mencapai dua kilometer. Ia menyebutkan, di lahan penuh potensi konflik lahan itu, potensi lahan yang bisa ditanami pepaya bisa mencapai 4.500 hektare.


Ia menyebutkan, pepaya Calina saat ini sudah banyak yang diekspor. Sejumlah negara seperti Singapura, Hongkong dan Dubai, sangat menggemari buah manis ini. Meski pengiriman dengan kapal selama 28 hari, pepaya ini tidak akan busuk. Sementara untuk penjualan  dalam negeri, pembeli dari Jakarta, Bandung, Semarang, Yogyakarta, Palembang dan  Padang, tiap hari mendatangi petani langsung untuk membeli pepaya.

Menurut dia, saat ini baru 10 persen buah pepaya Calina yang diproduksi petani Kebumen bisa menembus ekspor. Sisanya banyak diperebutkan oleh pasar dalam negeri. Menurut dia, perilaku petani yang belum sadar akan manfaat ekspor, menjadi persoalan tersendiri. Dinas, kata dia, saat ini sedang menggenjot keasadaran petani agar berorientasi ekspor.

Selain itu, Dinas juga mendorong petani untuk membuat bahan makanan olahan lain dari pepaya. Saat ini sudah dicoba membuat dodol pepaya di Desa Munggu Petanahan. Tahun depan, kata dia, ada anggaran Rp 100 juta untuk membuat pelatihan pengemasan pepaya agar bisa mendapat merk jual Calina Kebumen. “Branding dalam negeri ini penting agar masyarakat kita mulai mencintai buah dalam negeri,” katanya.

Kepala Dinas Pertanian dan Kehutanan Kebumen, Pudjirahaju mengatakan, selain pengemasan, Dinas juga sedang mendorong petani untuk mengolah lahannya secara arif dan bijaksana. “Jangan sampai seperti Dieng, karena booming kentang saat ini lahannya rusak dan mencemari lingkungan,” katanya.

Pertanian berkelanjutan, kata dia, lebih diarahkan untuk pertanian organik. Ia tak ingin, petani berlebihan dalam menggunakan pupuk kimia dan kandang sehingga lima tahun lagi hasil pepaya akan menurun. “Arahnya ke go green, agar pertanian tetap lestari,” katanya.

Lahan pertanian yang ditanami pepaya saat ini membentang mulai Kecamatan Mirit hingga Puring. Kondisi tanah yang mengandung pasir sangat cocok untuk ditanami pepaya. Apalagi, sepanjang tahun air untuk pengairan lahan bisa terpenuhi dengan baik. “Meski di pinggir laut, airnya tawar dan tidak tercemar seperti air sungai. Inilah mengapa pepaya Kebumen digemari orang luar negeri,” katanya.

0 komentar:

Posting Komentar